Siapa sih yang ga pernah ngalamin yang namanya kesusahan, struggle, atau apapun sebutannya. Satu keadaan dimana lu merasa ga bahagia, dan yang kepikiran tuh cuma tentang diri sendiri. I have to admit, orang itu egocentric, and dalam situasi begini, ke-ego (aku) an nya itu meningkat tajem bak roket meluncur. Segala sesuatu jadi tentang aku, aku, dan aku.
And I am, too, a person. A wretch, to be exact. My ego has consumed me dari napas pertama. Nangis, lapar, egois ga mikirin Mama Papa lagi tidur. Orang gampang aja bilang natur bayi namanya juga. Let me emphasize : NATUR. which means memang darisananya egois. Sifat dasar manusia. Sifat egois.
Dan keakuan gw ini makin parah waktu struggling. Most of the times gw struggling, selalu malapetaka. Tiba-tiba segala jadi salah, and everything's MY fault. MINE. Dan itu impactnya ke orang sekeliling gw. which is not good. Udah mah jadi self-loathing, ditambah lagi people might loathe me.
Dalam situasi-situasi kayak gini, ngeliat yang namanya kebaikan Tuhan itu ga gampang, cenderung super susah. Kayak ga ada yang bagus, gimana mau merasa Tuhan itu baik. I know kalo Tuhan pasti baik, dan we have to put our hope in Him. You know what? Easier said than done.
I'm not the most religious person out there, and my brain itu macem orang ateis kali. Disuruh berharap, bertahan karena semua baik, tapi I always doubt myself, apa bener iya? But I don't feel good, I can't see it, I can't understand, I can't say God is good.
Dan tiba-tiba gw tersadar lagi. See berapa banyak kata I yang gw pake? Those questions, semuanya lagi ngarahin ke "aku". Tuhan tuh cuma jadi objek doank buat kita. Sebenernya kita mah cuma peduli ama diri kita sendiri. Ga koq peduli sama Tuhan.
Si AKU itu tuh penyebab segala macem rupa. Pengen rasanya ga ngeliat ke AKU lagi. But how? #masihmencarijawaban
No comments:
Post a Comment